spot_img
spot_img
BerandaARTIKELSejarah Lima Puluh Kota Ternyata Lebih Tua dari Masa Penjajahan Belanda, Ini...

Sejarah Lima Puluh Kota Ternyata Lebih Tua dari Masa Penjajahan Belanda, Ini Faktanya

Kabupaten Lima Puluh Kota dengan ibu kota Sarilamak merupakan salah satu dari 19 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 3.354,30 km², terdiri dari 13 kecamatan, 79 nagari, dan 401 jorong.

Letak Geografis

Lima Puluh Kota merupakan kabupaten paling timur di Sumatera Barat dan menjadi pintu gerbang utama jalur darat menuju Provinsi Riau. Secara geografis, wilayah ini berada pada posisi:

  • 02°528,71 LU – 02°214,52 LS

  • 100°1544,10 BT – 100°5047,80 BT

Adapun batas wilayah administratifnya meliputi:

  • Utara: Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Kampar (Riau)

  • Selatan: Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Sijunjung

  • Barat: Kabupaten Agam dan Kabupaten Pasaman

  • Timur: Kabupaten Kampar dan Provinsi Riau

Potensi dan Keunggulan

Dengan posisi strategis sebagai gerbang penghubung Sumbar–Riau, Lima Puluh Kota memiliki potensi besar untuk berkembang di berbagai sektor.

Selain memiliki keunggulan alam yang menunjang pariwisata, kabupaten ini juga memiliki lahan pertanian dan perkebunan lebih dari 60.000 hektare, yang memberi peluang besar sebagai pemasok utama kebutuhan pangan, perkebunan, peternakan, hingga perikanan bagi wilayah sekitarnya.

Sejarah Hari Jadi Lima Puluh Kota

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Lima Puluh Kota ke-176 menjadi momentum napak tilas perjalanan daerah, diibaratkan melihat ā€œkaca spionā€ untuk menatap masa depan.

Dari hasil kajian seminar, diskusi, dan dokumen historis, pemerintahan Lima Puluh Kota sesungguhnya telah ada sebelum masuknya penjajah. Namun secara yuridis, nama Lima Puluh Kota pertama kali tercantum pada masa Belanda ketika dicatat sebagai Afdeeling Lima Puluh Kota.

Penetapan Hari Jadi

Hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota ditetapkan pada 13 April 1841, merujuk pada Besluit No. 1 yang mengatur reorganisasi pemerintahan Sumatra’s Westkust. Dalam besluit tersebut dibentuk sembilan afdeeling, salah satunya Afdeeling Lima Puluh Kota, dengan wilayah meliputi:

  • Lima Puluh Kota

  • Halaban

  • Lintau

  • Buo

  • Koto Tujuh

  • XIII Kota

Perkembangan Reorganisasi

  • 1 Januari 1865
    Afdeeling Lima Puluh Kota beribukota Payakumbuh dan terbagi dua onderafdeeling:

    • Payakumbuh

    • Puar Datar

  • 1 Januari 1905
    Berdasarkan Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 418, afdeeling ini diperluas menjadi tiga onderafdeeling:

    • Payakumbuh

    • Puar Datar

    • Mahat dan Boven Kampar

Pada masa Jepang, wilayah ini dikenal sebagai Lima Puluh Kota Bun. Setelah kemerdekaan, tepatnya 8 Oktober 1945, namanya berubah menjadi Luhak Lima Puluh Kota.

Berbagai pemekaran terjadi kemudian:

  • Tahun 1948

  • Tahun 1956 (pemekaran Bangkinang)

  • Tahun 1970 (pembentukan Kota Payakumbuh)

Penetapan Resmi

Berdasarkan Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2008 tentang Hari Jadi Kabupaten Lima Puluh Kota.

Ketua DPRD Lima Puluh Kota, Safaruddin Dt. Bandaro Rajo, SH dari Fraksi Golkar berharap peringatan hari jadi ini menjadi momentum pembangunan daerah yang lebih kuat. Sejak resmi ditetapkan, hari jadi telah diperingati secara berkelanjutan sejak tahun 2009.

BERITA TERBARU

Iklan

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read

DUKCAPIL

Related News